(http://i1004.photobucket.com/albums/af169/Moentero/kok.jpg )

Betapa Pentingnya Peran Seorang Ibu

13:11 Posted by Pengembara Cinta

Betapa Pentingnya Peran Seorang Ibu

Kata ”Ibu” adalah kata terindah dan sebutan paling syahdu yang keluar dari setiap mulut anak manusia. Merupakan kata penyejuk jiwa yang dahaga. Hati setiap anak Adam akan gersang sebab kerinduan jika jauh apalagi jika ditinggalkan oleh seorang ibu. Dia akan merasakan getaran rindu yang mendayu dan butuh sentuhan lembab seorang ibu untuk menyegarkannya kembali.

Ibu adalah sumber penabur benih dan serpihan cinta bagi anak manusia. Darinya manusia mengenal dan belajar cinta, arti kehidupan, dan arti sebuah perjuangan. Wajar jika seorang anak yang dari kecil dididik oleh seorang ibu peka terhadap cinta, kedamaian, dan kesahajaan. Ibu adalah sumber inspirasi, sumber imajinasi. Di dalam hatinya terdapat keindahan dan kedamaian. Di bawah kakinya terdapat surga, darinya terkadang murka Tuhan lebih cepat datang. Ibu bagaikan ilmu ‘Shorrof’ dan Bapak seperti ilmu ‘Nahwu’ (dalam gramatikal bahasa arab, ilmu shorrof lebih sulit dari ilmu nahwu). Ibu adalah guru yang tak pernah digaji, guru tanpa tanda jasa, menjadi buruh dan pembantu yang tak pernah dibayar dan sering lupa dihargai, dan menjadi perawat yang paling setia. Terkadang beliau menjadi sutradara, aktris, dan pemeran pembantu bagi anak-anaknya. Sesekali ia menjelma menjadi Puteri Salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan Sang Pangeran. Keesokan harinya, ia menjadi pendekar yang siap berlari, mengejar dan menghalau musuh agar tidak mengganggu buah hatinya. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan ‘aungan’ suara harimau. Atau berpura-pura menjadi si Nenek Sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata walau sedetik. Namun, si kecil belum juga memejamkan matanya dan memintanya menceritakan dongeng yang ke sekian kalinya. Dalam kantuk, lelah, lapar, haus dahaganya, beliau pun terus mendongeng demi menyanggupi permintaan belahan jiwanya, hingga lelap menjadi ‘ending’ sebuah ceritanya.
Sesiapa saja yang jauh, kehilangan kasih sayang seorang ibu, sentuhan mesranya,
bahkan ridhonya, maka hatinya akan gersang, haus siraman keibuan, dan ada segumpal darah suci yang terkotori dan dan butuh air kesucian dari seorang ibu untuk membersihkannya. Raut muka dalam diri seorang ibu, terpancar sinar keikhlasan. Dari kelopak matanya memijar mentari keindahan, dan senyum sumringah yang selalu keluar dari bibirnya yang manis nan indah walau tak dihiasi oleh lipstik Mesir.

----***----


Kasih Ibu. Kasih terajaib sepanjang masa. Namun aku tidak mendapatkan lagi rasa itu. Semuanya telah tiada, sirna dari hidupku. Entah kapan aku akan meraupnya dan merengkuhnya kembali??
Bayangan itu masih teringat jelas dalam memory otakku. Tragedi pertempuran keluarga, peperangan yang menyebabkan aku ditinggalkan oleh ibuku. Sebuah kenangan yang membuatku jauh dari kasih sayang seorang ibu. Diriku laksana berada di tengah gurun pasir sedangkan persediaan air telah habis. Pahit getirnya kehidupan pasti dirasakan seorang anak yang ditinggalkan ibunya di saat dia membutuhkan luahan kasih ibu. Dan itulah yang kurasakan. Perseteruan itulah yang menyebabkan mereka, Ayah Ibuku, mengakhiri petualangan cinta mereka yang sudah lama bersemi. Perjalanan cinta mereka yang sudah menghasilkan lima kurcaci. Kala itu, mahligai cinta mereka musnah. Padmasana yang mereka bangun dari nol hancur berantakan, sementara sendi-sendi dan serpihan ego mereka terus bergejolak untuk tidak lagi hidup serumah. Aku hanya bisa menangis waktu itu. Mendengarkan suara piring berterbangan didapur. Serpihan piring yang pecah pun jatuh di depan kami. Aku tersentak kaget. Adik-adikku pun semakin menjerit histeris lalu kontan memelukku erat-erat. Ibuku hanya bisa menangis, sementara tamparan bagai suara ribuan tangan terus menderu, suara itu terdengar keras di telingaku. Sungguh kejam dan seram. Anak sekecil kami telah mendapatkan pelajaran yang tidak mendidik. Melerai mereka pun tidak akan mungkin bisa. Adanya kami pun tidak menyurutkan perkelahian itu.

“ Sayang, kalian jangan menangis! Coba lihat Ibu, Ibu enggak apa-apa kok. Ibu sayang kalian, jangan menangis lagi ya!!” Ibuku datang dengan wajah yang memerah dan sesenggukan menyuruh kami agar tidak lagi menangis. Beliau terus berusaha menahan sesaknya, sementara tangis ibu terus menjadi seiring tangis kami yang menjadi-jadi.

“ Zulfikar, bawa adek-adekmu masuk ke kamar!”

Kakak dan aku pun langsung menggiring ketiga adik kami dan menuju kamar depan, kami semuanya menangis sampai serasa nafas kami sesak, sesenggukan.
“ Plakkkk..” Suara tamparan kembali terdengar dari depan kamar. Ayah masih saja memukul ibu, entah dimana perasaannya hingga tak menghiraukan tangis kami.
“ Apa salahku, kenapa aku harus menerima kenyataan ini??” Ibuku terus mencoba untuk menanyakan salahnya yang kesekian kalinya, namun tak pernah mendapat jawaban.
Keesokan harinya, di saat aku, kakakku, dan ayah pulang dari kebun, betapa kami terkejut, ternyata ibu belum menyediakan makanan di atas meja makan. Padahal biasanya, ibu sudah menyediakan sarapan pagi buat kami. Ibu tahu bahwa kami selalu kelaparan sehabis memotong (mengiris) karet di kebun. Ibu tidak ikut bekerja ke kebun karet karena ibu masih masih merawat ketiga adikku yang masih kecil-kecil dan memasak sarapan. Padahal kami saat itu sudah kelaparan semuanya, namun sarapan belum juga tersaji. Wajah Ayah terlihat sangat memerah. Ayah tahu bahwa aku dan kakakku sudah kelaparan sejak di kebun karet tadi.

“ Rizal! Bangunin ibumu, paling dia masih ngorok ngelonin adik-adikmu. Cepetan!” Ayahku menyuruhku dengan nada agak keras.
Aku pun langsung menuju kamar ibu. Aku ketuk pintu kamarnya, sampai tiga kali belum juga dibuka. Karena tak juga ada jawaban, aku pun langsung masuk tanpa menunggu izinnya, padahal ibu mengajariku untuk minta izin dulu kalau mau masuk kamar siapapun. Kemudian, aku tersentak kaget. Kamar ibu sudah kosong. Adik-adikku pun tidak ada di kamar ibu. Kamarnya bersih dan rapi. Sementara pakaian adik yang terkadang berantakan di ranjang ibu, kini tidak satu pun aku melihatnya. Aku menangis. Badanku bergetar. Bulu romaku seakan tumbuh seketika. Aku keluar menuju ayah sembari sesenggukan. Tangisku menutup mulutku. Susah bertutur kata

“ Rizal! Mana ibumu, kok malah nangis gitu sih?” Ayah menarik badanku keras sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku. Beliau sampai mengulang tiga kali pertanyaannya. Aku tetap menangis, tak kuasa menahan sedih, takut, dan khawatir ada apa-apa dengan ibu. Aku tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan Ayah, tapi sulit karena mulutku tetap terkunci oleh isak dan tangis.

“ Maisaroh!! Ada di mana kau??” lalu Ayah berteriak-teriak mencari ibuku.

Aku menghampiri kakak, “ ibu….ibu enggak ada, Kak,” tuturku pada kakak sambil sesenggukan.
Ayah bergegas menuju kamar atas, menggeledah semua tempat, ayah memeriksa semua kamar, juga mencarinya di dapur, namun tetap tidak menemukan ibu. Ayah membuka lemari besar, lemari tempat menimpan baju, namun semuanya telah kosong. Ayahku semakin gamang, heran dan geram. Lemari yang besar itu didorongnya hingga jatuh.
“ Jendarrrrrrrrrrrrr..! Suara benturan benda keras melengking keras dari dalam kamar. Aku dan kakakku semakin keras menangis mendengar ayahku merobohkan semua lemari yang ada di kamar ibu. Ayah tidak mempedulikan kami. Tangis kami tidak membuatnya mengurangi amukannya. Kami takut melihat wajah ayah. Wajahnya seram, memerah, amarahnya memuncak.. Mungkin karena sudah capek misuh-misuh terus dan lelah telah menghancurkan semua perkakas rumah, ayah kemudian duduk di meja makan. Beliau kelihatan sedih bercampur geram, wajahnya penuh peluh, keringat berjatuhan dari badannya, sementara dari matanya mulai mengeluarkan air kesedihan. Beliau rebahkan bahunya ke dinding rumah. Ia menerawang masa kelam. Tiba-tiba, beliau menemukan sepucuk surat yang dilipat dan disimpan di bawah kendi. Mata beliau melihatnya sendu seakan sudah tahu isi surat itu, sementara air matanya mulai berjatuhan tanpa disadarinya.


Assalamu’alaikum.Wr.Wb

Suamiku, aku lelah. Aku sudah bosan dengan kekerasanmu. Aku tak kuasa menahan amarah dan siksamu. Entah apa salahku? Kenapa kau begitu tega terhadapku?Apakah kau tidak kasihan sama anak-anak kita?? Sedangkan ketika aku tanya apa salahku, kau tak pernah menjawabnya. Mungkin perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk kita, Bang. Kasihan sama anak-anak kita jika kita tidak berpisah sementara kita bertengkar terus setiap hari. Belum lagi gunjingan dari tetangga. Maafkan aku, Bang. Aku akan pergi. Ketiga anak kita kubawa pergi, Abang jaga kedua anak kita itu.
Jangan lupa, Bang, aku minta talaq. Aku minta talaq. Aku minta talaq. Aku tidak akan kembali lagi, Bang. Jangan cari aku dan anak-anak, Bang! Uang tabungan aku bawa semuanya untuk biaya, Bang.

Wassalamu’alaikum.wr.wb
Maisaroh

Aku melihat badan Ayah lunglai, sedih, dan tangannya gemetar membaca surat itu. Sementara butiran air matanya terus berjatuhan. Tangis pun terdengar dari mulut ayah, ayah yang akhir-akhir ini selalu garang, kini menangis sesenggukan, sementara kami terus menangis sambil menjerit mendengar ayah menangis. Surat itu jatuh dengan sendirinya dari tangan ayah. Ayah menatap wajah kami dalam. Wajah ayah yang tadinya garang kini berubah pucat. Ia tak kuasa menahan tangisnya, kemudian beliau melangkah menuju kamarnya. beliau tak kuasa menahan rasa sedih. Mungkin ayah merasa bersalah. Sementara kakakku terus memelukku erat-erat.
Aku juga bingung dengan sifat ayah. Ayah yang dulunya pendiam, sabar, harmonis, romantis, dan bertangggung jawab sama keluarga, kini telah berubah drastis, berbalik arah dari sebelumnya, sejak tiga bulan terakhir ini ayah berubah 100% dan puncaknya adalah kejadian kemarin. Aku tidak bisa berfikir kenapa ayah setega dan sekejam itu sama ibu?? Kenapa bisa berubah seperti ini? Masalahnya pun tidak jelas, entah berawal dari mana? Padahal ibu tidak pernah membantah perintah ayah, ibu selalu menuruti kemauannya.
Setelah ibu dan adik-adik pergi, malam-malam kami sepi, sunyi, dan senyap. Ruangan yang dulunya harmonis, romantis bersahaja kini seakan menjadi rumah yang penuh dengan air mata. Senda gurau, gelak tawa, dan dongeng-dongeng lucu yang selalu diperagakan ibu sebelum tidur tiada lagi kudengar, tidak ada lagi pendongeng gratis yang menemani lelap kami. Keramaian yang selalu menghiasi rumah tangga kami tidak terdengar lagi. Kepergian ibu telah mengubah semuanya. Rumah kami bagaikan sebuah kuburan. Padahal aku masih ingin dimandikan oleh ibu seperti anak yang lain. Aku ingin tidur di pelukan ibu, dengan suaranya yang merdu, meninabobokan aku. Aku ingin terlelap dalam pelukannya, namun keinginanku itu hanya angan-angan belaka. Ibuku telah pergi meninggalkanku, saat aku masih berumur tujuh tahun. Kakakku masih trauma, pun aku demikian, kehilangan ibu di saat-saat kami butuh kasih sayang dan curahannya. Sedangkan ayahku selalu termenung sendirian, walau kejadian itu telah berlalu satu minggu. Ayahku seperti orang frustasi. Ayahku tampak depresi.
Setelah kejadian itu keluarga kami benar-benar berantakan, hancur laksana kapal kekurangan anak buahnya, karam di tengah lautan. Ayahku berhenti bekerja di PT. Bhina Karya. Beliau lebih memilih bekerja menjadi tukang karet biasa. Padahal penghasilan karet kami sangat tidak mencukupi kebutuhan kami. Apalagi kakakku sudah kelas enam SD, butuh banyak biaya untuk kelulusannya. Akhirnya jatah makan kami pun yang biasanya ‘sehari dua kali’, diubah menjadi sekali saja demi menabung untuk biaya sekolah kakakku. Sementara aku harus puas berhenti di kelas dua. Ayahku tidak bisa membiayai kami berdua. Sungguh aku merasa sedih. Benar-benar sedih. Aku hanya bisa melepas sekolahku dengan tangis dan air mata. Aku hanya terbayang wajah ibu yang penuh senyum. Andai beliau ada disiku, mungkin semua ini tidak akan terjadi Aku rindu ibu. Sangat merindukannya.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Iwan Fals..

Keluargaku benar-benar hancur berantakan. Kakakku menghilang setelah lulus SD. Awalnya dia berpamitan ingin mengadu nasib, mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari kami yang semakin dilanda kemiskinan. Kakakku masih ingin menyekolahkanku. Namun, rimba kakakku tak lagi kudengar, entah dimana adanya. Aku dan ayah pun harus berperan sebagai ibu rumah tangga, kami selalu masak bergantian, cuci baju sendiri-sendiri. Banyak sekali pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan oleh kami. Rumah kami pun tidak terurus. Kurang bersih. Tidak rapi. Sungguh, aku sangat membutuhkan seorang ibu. Ibu adalah segalanya dalam hidupku. Entah apa jadinya dunia tanpa kehadiran seorang ibu.

“ Ibu…!!” Hatiku berteriak rindu akan ibu.
Ibu, kau ada dimana?
Aku rindu akan dirimu, ibu.
Ohh… Ibu.
Anakmu kini rindu haus dahaga.
Rindu dan kangen ingin bersua
Ingin meluapkan rasa rindu yang selalu menggebu-gebu
Yang tak kunjung padam walau aku selalu menangis tersedu

Jiwaku berkata nurani berbisik ‘haus dahaga’ ingin bertemu ibu
Seluruh badanku bergetar tatkala mendengar kata ‘ibu’
Kepadamu aku selalu tembangkan nada kerinduan
Karenamu aku terinspirasi sejenak tuk adi biduan

Aku selalu berdo’a semuga kita cepat bertemu
Memadu kasih bersama seorang ibu
Agar dipanjangkan umur dan senantiasa bahagia
Bisa berkumpul kembali bersama keluarga tercinta

_____*******_____

Di keseharian kami, kami terus membanting tulang untuk tetap bertahan hidup, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami hanya mengiris karet saja. Karena itulah satu-satunya kebun yang bisa menghasilkan uang. Lahan pertanian kami tidak punya. Orang tua kami hanya mendapatkan warisan tanah yang dijadikan tempat rumah kami dan kebun karet. Ingin bagi hasil dengan tetangga, tetangga tidak mau berkongsi kerja dengan kami. Mereka tidak menghiraukan kehidupan kami yang melarat, terjerat dalam kemiskinan. Kadang kami juga kelaparan kalau sudah musim hujan, karena kebun karet kami tidak bisa menghasilkan apa-apa di musim hujan. Kami kadang harus menahan lapar hingga esok hari walau kami. Sebenarnya punya tabungan, namun aku dan ayah tetap berusaha untuk tidak membuka tabungan yang mungkin isinya hanya 90.000 saja. Kami menabung sedikit demi sedikit. Walau di ketiadaan seorang ibu, aku tidak mau menjadi orang yang terbelakang di dunia pendidikan. Aku tetap harus menghadapi hidup dengan ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama. Ayahku juga selalu mendukung dan mengimeng-ngimengiku akan menyekolahkanku lagi dan mendaftarkan aku untuk mengikuti pengajian al-quran yang diadakan setiap habis sholat maghrib di mosholla “ Assyafi’iyah”, namun beliau berpesan agar aku harus selalu berusaha menahan lapar. Aku siap dan akan selalu siap menghadapi lapar, demi mencapai target dan tujuanku dan keinginan ayah.
Dua tahun aku menjalani hidup hanya dengan seorang ayah. Kakak, adik-adikku, dan ibu entah gimana kabarnya. Mungkin umurku memang agak terlambat untuk masuk sekolah di kelas tiga SD. Umurku sudah sepuluh tahun. Namun, rasa malu buatku bukan menjadi penghalang buatku untuk berteman dengan teman-teman yang memang ada di bawahku semua umur mereka, karena aku memang terlambat sekolah. Aku menganggur selama dua tahun. Uang tabungan sudah lumayan cukup untuk mendaftar sekolah lagi, sedangkan biaya bulanan aku harus tetap berusaha dengan segiat mungkin mendapatkannya, dengan tetap banting tulang dan mencari kerja sampingan, atau, jika aku bisa mendapatkan rengking satu, maka aku akan mudah mendapatkan beasiswa.
Aku sudah mempersiapkan segala peralatan sekolah kecuali baju yang masih aku belum bereskan, karena besok lusa, aku dan ayah akan pergi ke SD Kemayoran untuk daftar sekolah. Hatiku sangat senang. Aku akan sekolah lagi. Aku tersentak kaget, arang setrika mencuat, bertaburan diatas sajadah ketika aku sedang menyeterika bajuku (dengan setrika yang memakai arang), tiba-tiba ada orang yang mengetok pintu rumahku dengan keras. Sudah jam delapan malam lagi. Sangat jarang sekali ada orang yang berani melintas di sekitar rumah kami kalau malam sudah tiba. Rumah kami sangat jauh dari keramaian. Rumah kami hanya dikelilingi oleh kebun-kebun karet yang menjulang tinggi. Namun itu bukan milik kami. Kalau malam hari datang, suasana rumah kami sepi, sunyi, dan seram, yang terdengar hanyalah suara kodok yang ketawa terbahak-bahak di kolam, atau suara jangkrik yang selalu menjerit dari semak-semak belukar, yang menjadi santapan burung-burung hantu, bahkan sering sekali suara burung hantu berubah menjelma seperti suara cewek yang sedang menangis dan minta tolong.
“ Rizal! Ini aku. Bapak Muhaimin. Buka pintunya dong!” Suara dari luar meminta di bukain pintu. Suara bapak Muhaimin. Orang terkaya di desa kami. Pekerjaannya hanyalah mengantarkan surat, tapi dia tetap terkaya di kampung kami.

“ Silahkan masuk Pak, Muhaimin!” pintaku.

“ Mana bapakmu?”

“ Eh, Pak Muhaimin, ada apa nih malam-malam berkunjung ke rumah kami??” Bapakku keluar dari kamarnya sambil tersenyum tipis langsung emnanyakan prihal kedatangan Pak Muhaimin.
“ Eh, ini Pak Ahmad, ada surat dari anakmu, Zulfikar”
Aku yang mendengar percakapan mereka dari dapur, kontan ingin cepat-cepat keluar membawa kopi bikinanku.
Setelah bapak Muhaimin pergi, ayah langsung membaca surat itu. Aku hanya melihat surat itu dari kejauhan. Tapi aku tetap senang sekali, apalagi ayah, wajahnya langsung berubah. Beliau sangat gembira. Di surat itu tertulis, bahwa keadaan kakak Zulfikar baik-baik saja. Dia mengirim uang sebanyak dua ratus ribu. Dia meminta ayah menyekolahkanku lagi dan ikut les mengaji al-quran. Uang yang dikirim kakakku untuk biaya pedaftaran sekolah dan les ngaji. Kami sangat bahagia bercampur sedih, senang karena sudah tahu kakakku berada di Sanggau Ledo dan dia baik-baik saja sejak menghilang dua tahun silam, sedih diiringi butiran air berjatuhan karena sangat merindukannya, namun kami tetap menangis terharu dan bahagia karena dia bisa mengirimkan sebagian uangnya, berarti dia masih ingat sama kami.
Aku sudah mulai masuk sekolah. Tentunya waktuku padat. Pelajaranku yang banyak dan banyak kegiatan di sekolah membuat jadwal masakku berantakan, hingga ayah yang selalu masak buatku, walau beliau tetap senang melihatku sekolah lagi, namun aku tetap tidak ingin memberatkan beban ayah. Aku jadi ingat masa kecil bersama ibu, didapur selalu ada makanan. Waktu sekolah dulu, ibu selalu menyediakan sarapan dan sangu buatku dan kakak. Aku tidak pernah membawa makanan (Sangu) lagi seperti dulu. Aku hanya melihat teman-teman melahap makanan masakan orang tua mereka. Aku juga tidak punya jatah uang sarapan. Aku hanya bisa menangis di bawah pohon besar di samping sekolahanku. Aku menjauh dari teman-teman yang sedang enak menikmati hasil masakan orang tua mereka. Dalam isak dan tangisku, aku benar-benar ingat masa-masa bersama ibu. Aku kangen ibu. Aku menangis rindu akan ibu. Ibu…. Diamana kah dirimu??.

Ibu adalah segalanya, dia penghibur di dalam kesedihan
Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan

Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati, dan pengampunan
Manusia yang kehilangan ibunya, berarti kehilanangan jiwa sejati yang memberi
Berkat dan menjaganya tanpa henti

Segala sesuatu didunia ini melukiskan tentang sosok seorang ibu
Matahari adalah ibu dari planet-planet bumi yang memberikan makanannya
Dengan pancaran sinarnya

Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai matahari meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai

Dan bumi ini adalah ibu dari segala pepohonan, bunga menjadi ibu dari buah-buahan dan biji-bijian

Ibu sebagai bentuk pembentuk dasar dari segala kewujudan dan adalah roh kekal, penuh keindahan dan cinta. ( Khalil Gibran)

0 comments:

Post a Comment

  • 125x125 Ads1
  • featured-content

    featured-content

    Photobucket Photobucket Ahlen We Sahlen Bikhudurikum. Happy Reading! Salam, ukhuwah, by Moentero De' Ahmad.... Awaaasss!!!Permaisuriku lagi ngambek nih!!!!!

    featured-content

    video-entry

    featured-content

    Powered By Blogger