(http://i1004.photobucket.com/albums/af169/Moentero/kok.jpg )

WAHAI KALBU-KU

14:57 Posted by Pengembara Cinta

Wahai kalbuku,

Jika engakau mengenal peredaan

Antara keriangan dan kedukaan,

Engkau akan terkoyak.

Meskipun hasratmu berasa manis,

Bukankah Sang Kekasih menginginkanmu tanpa berhasrat??

Oh, kehidupan para pecinta bersemayam dalam kematian

Engkau takkan memenangkan hati Kekasih

Tanpa kehilangan hatimu sendiri

By: RUMI
Selanjutnya... »»

Cinta Sejati Akan Kembali

15:46 Posted by Pengembara Cinta

Aku tak sanggup melawan senyummu
Aku tak kuasa membeli kecantikanmu
Aku hanyalah diri yang tak sanggup berdiri didepanmu
Tak kuasa kubersanding di padmasanamu



Bukan karena aku takut kalah
Bukan juga karena aku lemah
Aku hanya lelah
Karena kau tak tegas memilah

Tetaplah kau disana menjadi permadani
Teruskan menari menjadi bidadari
Bersandinglah dengan mataharimu
Dia adalah penolong di hari kelakmu

Tak ingin ku mengusik keindahan
Biarkan aku meninggalkan kenangan
Tinggalkan aku sendiri di atas awan
Biarlah awan dan angin menjadi kawan
Kan kutulis bersamanya kisah kita yang menawan

Kubiarkan cinta itu pergi….
Karena aku yakin itu bukan cinta hakiki
Cinta sejati akan kembali
Karena Allah telah menjanjikan jodoh setiap hati
Yang akhirnya akan terpatri menjadi istri

Walau apa yg terjadi
Ingatkan dalam hati
Cinta yang agung anugerah Ilahi
Ia akan kembali dan menjadi abadi…
Selanjutnya... »»

Pecinta Sejati

17:50 Posted by Pengembara Cinta

Pecinta Sejati........

Jiwanya dihiasi oleh cinta
Tiap bahasa dan tuturnya penuh makna
Ia yakin bahwa cinta itu nyata
Walau terkadang harus rela terhina



Ia tidak suka menghianati
Walau terkadang sering di khianati
Ia harus sabar atas semua deritanya
Karena sengsara adalah bagian dari ceritanya

Cinta sejati tak kan pernah terbagi
Jika terbagi ia akan pergi
Tak kan kembali
Sampai mati

Cinta sejati bukan hanya dimiliki bidadari
Tidak juga hanya disebarkan oleh mahadewi
Tapi oleh mereka yang punya hati suci
Yang dengan keikhlasannya menjadi cinta hakiki
Selanjutnya... »»

Gemuruh rindu

16:04 Posted by Pengembara Cinta

Gemuruh rindu dalam hatiku
kencang menderu
laksana peluru emas yg siap memburu


Rinduku padamu membuat jiwa ini tak menentu
Namun aku selalu mencoba tuk mengalahkan nafsu

Sungguh,

Rindu tlah permainkan kalbuku
Menggoda di tengah sepiku
Menenggelamkanku dalam lamunan palsu
terkadang membuatku, pilu, lesu dan terpaku

Oh..... Cinta!

Gelak tawamu semakin membuatku kangen
Kedipan matamu seakan menjadi hantu gentayangan

Namun...

Tetap saja rindu tak bisa di ganti dengan angan.

Cinta.....

Aku setia menunggumu diatas awan

Cintaa............!!

Andai kau mendengar jeritan rindu dalam hatiku
Ia begitu kencang memanggil namamu...

Namun jeritan itu ku selipkan dalam penjara hati
Setia menunggu cintamu yang suci
Sampai mati, Ya, sampai mati
Selanjutnya... »»

13:41 Posted by Pengembara Cinta

Metode Pembangun Jiwa yang Lara

Hari itu, tepatnya tanggal sembilan Oktober 2009 pukul 4 sore, saya mendapatkan offline via yahoo messenger dari DPD Tanta, isinya adalah, bahwa depertemen seni dan bakat akan mengadakan sekolah menulis selama empat hari berturut-turut dan pembukaannya akan di mulai sehabis sholat ashar. Aku yang baru datang dari Cairo mengurus visa haji dan surat rekomendasi dari KBRI, tak pikir panjang, karena aku masih capek, lesu, dan persediaan ekonomi semakin menipis, apalagi hari minggunya aku harus pergi ke Cairo lagi.

Dalam batinku berkata” Malas ah ikut pelatihan menulis, paling juga ntar materinya gitu-gitu aja, ga ada yang nyantol”. Saya yakin bahwa kawan-kawan Masita (Mahsiswa Indonesia Mesir Tanta) banyak yang tidak ikut ambil bagian dalam kegiatan ini, apalagi di tambah bayarannya yang lumayan merogoh kocek Masita, sebab dari dulu di DPD Tanta ada tradisi bahwa setiap kegiatan, selalu gratis, akan tetapi tetap sepi pengunjung. Walau pun sudah tidak bayar dan diimeng-imengi ada makanannya, setiap ada acara di DPD Tanta tetap kurang menarik minat Masita, apalagi harus membayar sebesar 40 LE (70.000) seperti acara ini.

“ males ah, aku ikut” Gumamku dalam hati.

Aku pun juga kecewa setelah mendengar bahwa ada biaya sebesar itu, aku merasa kecewa dengan kepengurusan sekarang, apalagi aku ingat masa dulu, ketika saya harus bertengkar dan adu mulut dengan mas Dendi dan Yusuf Fauzi, gara-garanya sederhana saja, setiap siapa saja yang ikut pelatihan bahasa arab dimasa itu, aku (sebagai sexi pendidikan) mintai keikhlasannnya sebesar 5 LE, namun, mas Dendi sebagai ketua masa itu, menolak meminta iuran dari anggota, begitu juga dengan Yusuf Fauzi, yang masa itu menjabat koordinator olah raga tidak setuju dengan iuran itu, walaupun yang mengusulkan untuk membayar sebesar 5 LE masa itu adalah mas Yasir, sebagai Ketua BDB; dan niatan beliau adalah agar ada keterikatan antara peserta dengan gurunya. Akan tetapi keputasan akhir yang diambil ketua, mas Dendi adalah bahwa sesiapa saja boleh mengikuti acara yang akan diadakan oleh DPD dan tanpa di pungut bayaran.

Di messega offline yang dikirimkan oleh DPD, tertera bahwa untuk pembukaan ‘sekolah menulis’ tidak di kenai bayaran dan bagi siapa saja boleh mengikutinya. Setelah selesai sholat ashar, aku pun bergegas pergi ke auditorium DPD Tanta, Ingin tahu seperti apa sih methode yang akan diterapkan oleh tutornya. Aku memang pernah kenalan sama, Ustadz Udo ketika acara tarhib ramadhan, beliau adalah da’i yang kami undang waktu itu, akan tetapi karena saya kebetulan waktu itu adalah ketua panitia, aku tidak bisa mengikuti acara sepenuhnya, namun masa itu aku sempat terkagum dan ingin sekali mendengarkan petuahnya, akan tetapi, algi-lagi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku waktu itu, masak hidangan buka puasa. Aku berpikir” itu adalah da’wah beliau, tentu beda dengan pelatihan ini”. Aku juga ingin tahu seberapa banyak peserta yang akan ikut dalam pelatihan ini, sebenarnya di Tanta sudah sering mengadakan pelatihan seperti, akan tetapi hasilnya selalu nihil.

Sesampainya aku didepan pintu sekretariat, Musyaffa’ dengan wajahnya yang sumringah menyambutku penuh senyum, Ating yang sedang sibuk ngobrol dengannya senyum menatapku dalam-dalam. Musyaffa’ pun datang menghampiriku.

“ Assalamu’alaikum.Wr.Wb. Bang, gimana kabaranya” Tanyanya.
“ Wa’alaikum salam.Wr.WB. Alhamdulillah, khoir insya Allah” jawabku singkat.
“ Lho, Bang kok nama antum ga ada disini?? Belom daftar ya??

Aku tersipu malu, mau jawab apa aku? Sedangkan aku adalah termasuk salah satu senior di Tanta. Aku terdiam sejenak, mengolah pikiran untuk menjawab pertanyaan Musyaffa’ agar tidak tersinggung dan tetap semangat dengan kegiatan ini.

“ Oh iya ya, tapi kan di offline-nya untuk pembukaan gratis, siapa saja boleh ikut. Dan aku kesini mau jumpa Irfan saja” Jawabku di barengi dengan seyuman kebohongan.

“ Ohh..Gitu. Yauda, ga papa, Bang” Musyaffa’ pergi dan menemui Ating yang masih duduk di sofa, didalam kantor sekertariat.

Selang berapa waktu kemudian, kawan-kawan yang lain berdatangan. Lama menunggu, sampai maghrib pun tiba, yang di tunggu belum juga kunjung datang. Setelah penitia menghubungi Irfan, yang kebetulan dia yang menjemput Ustadz Udo, panitia memberi info kepada kami bahwa mereka masih dalam perjanalan menuju Tanta, akan tiba di kota Tanta setelah maghrib, dan acaranya akan dimulai setelah sholat isyak. Aku dan kawan-kawan yang lain pun berhamburan pergi, ada yang pulang kerumahnya dan banyak yang setia menunggu di sekretariat, kebanyakan mereka adalah para panitia kegiatan ini. Sedangkan aku dan sebagian teman yang lain menuju Mat’am (restoran Nusantara), yang berada di lantai 2. Bagiku, selain bisa memesan makanan, yang dari tadi sudah kelaparan, karena belum makan siang di rumah, disni aku bisa menikmati internet gratis, apalagi kadang-kadang tunanganku mengirim sms lewat FB, maklum sms lewat Vodafon 80 Qires sekarang, sedangkan lewat FB gratis.
Perutku sudah berisi, sms tunanganku sudah ku balas, berita sudah didapat, aku pun naik keatas, lantai 5, ke auditorium. Sesampainya di depan pintu, Ating tersenyum lebar menatapku, dia sedang senda gurau bersama Musyaffa’. Aku bersalaman dengan Ating, Ating pun menyambut dengan mesra, aku pun menarik Ating masuk ke Perpustakaan, Ating pun menggapaiku dan merangkul bahuku, kami hanya berdua disitu, semua orang berada di halaman tamu, aku mendekatinya, sambil menarik badannya kuat-kuat. Ating pun mendekatiku, tunduk mendayu didepanku, apalagi aku adalah seniornya. Dia manut saja dengan apa yang ku mau.

“ Ating, Uang kas ada berapa di ente, ente kan Bapak Bendahara? Kenapa biaya Administrasinya sampai 40 LE?” tanyaku memaksa.
“ Weleh, aku kira mau diapain aku, mau Tanya itu ta. Uang kasnya menipis, sedangkan proposal untuk termin pertama belum diajukan ke pihak KBRI, makanya, biaya pelatihan mahal” Ating menjawab pertanyaanku singkat sembari tersenyum karena dia telah salah menafsiri kemauanku.

Aku masih seru berbincang dengan Ating didalam Perpustakaan, sementara acara sudah di mulai, dan Pak Udo beserta keluarganya telah berada diantara MASITA, namun kami tetap asyik ngobrol berdua di dalam perpus.

“ Ente ikut ga, Ting acara ini??” Tanyaku lagi
“ Sebenarnya tadi mau kut, aku sudah bayar 10 LE, aku kaget, ternyata uang iurannya sebesar 40 Le, Makanya tadi aku engkel-engkelan sama Musyaafa’, dia ga mau ngembalikan uangku itu, aku bokek banget nih, habis dari Cairo ngurus minhah, jadi karena mahal banget, aku kayaknya enggak bakalan ikut nih.”Paparnya.

“ Aku juga baru dari Cairo nih, aku juga lagi bokek banget, makanya aku malas ikut, karena biayanya mahal, sedangkan setiap ada acara apapun disni, tidak pernah di pungut biaya.” Jelasku.
“ Yaudalah, ayo kita kumpul, ikut pembukaannya saja, itung-itung gratisan.” Ajakku.

Atingpun mematikan rokok gudang garam yang dikenyotnya dengan dahsyat. Kami pun berkumpul dengan teman-teman yang lain, kebetulan, acara sudah sampai di sambutan sekaligus pembukaan pelatihan” 4 hari sekolah menulis” oleh Bapak Udo Yamin Majdi sebagai pelopor ‘Word Smart Center’.
Ini adalah kedua kalinya aku bertemu dengan Bapak Udo Yamin, namun aku belum tahu karater beliau seperti apa, walau ketika tarhib ramadhan aku sempat terkagum dengan ceramahnya, yang membahas tentang kemulyaan Al-Quran, akan tetapi aku tetap belum bisa membaca pikirannya. Dalam pandanganku, Pak Udo adalah sosok yang seram, jenggotnya yang panjang, ditambah brengosnya yang lebat menambah beringasnya orang ini. Aku baru waktu itu mendengar Word Smart Center (WSC), sebelumnya tidak pernah mendengar gaungnya, jadi, wajar jika aku waktu itu berprasangka kurang baik terhadap beliau.

“ Orang ini tidak lain dan tdak salah lagi, paling hanya ingin menyebarkan ideology, faham, dan idialismenya” Sangkaku.

Setelah sampai di pertengahan sambutannya, beliau mengutip sebuah ayat “ ahsanu taqwim” Beliau menafsiri ayat tadi dengan memberikan makna” Sebagus-bagusnya potensi”, Pak Udo, lanjutnya, bahwa setiap manusia mempunyai potensi, bahkan manusia dibedakan dengan makhluk lainnya, karena potensi yang dimiliki oleh setiap manusia, maka jika potensi yang dimiliki manusia digunakan dan terus diasah, maka manusia ini akan menikmati potensi yang mereka miliki, begitu juga sebaliknya, jika potensi yang dianugerahi Allah kepada manusia ini tidak di mamfaatkan dan tidak diasah maka tidak ada gunanya dan akan tumpul serta tidak ada bedanya antara manusia dan makhluk lainnya.
Mendengar penjelasan ayat yang Bapak Udo tafsiri tadi dengan menggunakan makna” sebagus-bagusnya potensi” Sungguh membuatku kagum, mataku terbelalak, rasa kantukku pun hilang seketika, pemandangan mata yang tadinya berkunang-kunang, kini binar laksana disirami tetes air jeruk, rasa ragu terhadapnya kina berkurang. Karena, aku adalah anak Tafsir yang sudah tingakt 4, insya Allah LC, namun, baru kali ini aku mendengar dari beliau bahwa ayat tadi ditafsir dengan begitu indah nan pas dengan keadaan zaman sekarang. Mungkin itu adalah kebodohanku, ketidak tahuanku, dan kekurananku membaca kitab tafsir, sehingga aku kalah dengan beliau yang bukan jurusannya. Aku kalah.

Dengan di bacakannya do’a oleh Ustadz Udo tadi, maka barakhirlah acara ini. Para peserta berhamburan pergi. Ada pengumuman dari panitia, bahwa setelah istirahat sejenak, sekolah menulis akan di mulai malam ini, dan akan diisi dengan ekspektasi peserta. Aku pun membawa Ating masuk perpustakaan lagi, kami nogobrol disitu dengan penuh canda tawa, mesra menyelimuti raut wajah kami, karena Ating selesai mengurus beasiswanya, sedangkan aku telah mendapatakan ‘ta’syir ‘audah’.

“ Ting, gimana, ente jadi ikut apa enggak nih??” Tanyaku.
“ Enggak tahu nih, apa aku ikut apa enggak ya? Aku uda menipis banget nih” Jawabnya lirih.

Sementara di auditorium, materi pertama, ekspektasi sudah di mulai. Suara Bang Udo yang lembut mengheningkan suasana, suara itu semakin terdengar ke dalam ruangan perpustakaan, semua peserta khusuk medengarkan materi yang disampaikannya, sementara aku dan Ating masih bingung, gundah, memikirkan mahalnya tariff yang di tarik oleh panitia.

“ Yauda, Ting, ayo kita ikut aja, ntar klo memang kurang cocok, besok ga usah datang lagi, gimana?”

Aku memecah kebuntuan kami berdua, dan mengajak Ating masuk dalam kelas sekolah menulis.
Pandangan teman-teman tertuju kepada kami penuh curiga, pandangan mereka dalam, namun tetap tidak bersuara, karena melihat kami keluar berdua bersama dari perpus, seketika pandangan mereka beralih ke depan semuanya, namun pandangan Musyaaffa’ sambil tersenyum tetap mengarah kepada kami, dia tahu bahwa kami belum bayar uang pendaftaran, sementara yang lain suda lunas semuanya. Ustadz Udo pun memandangi kami penuh sahabat, senyumnya memuai dengan sendirinya, ma’rifatnya sekan membaca hati kami, kami pun tertunduk malu, tak bersuara sedikitpun. Kami pasrah walaupun kami di hukum karena kami telah terlambat sepuluh menit, namun Ustadz Udo tak menegur keterlambatan kami, beliau sepertinya faham keadaan kami, akan tetapi hati kami bergetar, ketika beliau mendekati kami yang sedang tertunduk malu, mata kwan-kawan pun kembali menuju kami, eh, ternyata, beliau hanya menyodorkan dua kertas formulir yang masih kosong, dengan suaranya yang lembut, beliau berkata” Tolong diisi formulir ini semuanya!” perintahnya. Kemudian beliau pun menjelaskan visi-nya (cerda, mandiri, kreatif dan mulia) jelas dan transparan, misi-nya islami, dan penyampainnya tampak penuh keikhlasan memancar dan keluar dari sendi-sendi seluruh anggota tubuhnya. Beliau pun melanjutkan penyampaian materinya sampai selelsai.
Penyampaian materi pertama selesai. Bapak Udo menginginkan ada pemilihan ketua kelas dari kami dan setelah itu menulis tentatib acara serta hukumannya. Kebanyakan dari teman-teman tidak mau menjadi ketua kelas, karena menganggap tugasnya sangat berat. Akhirnya, setelah kian lama mencari dan menunggu, bersedialah suadara Khozin memegang amanah ini. Kami pun memusyawarahkan tata tertib acara dan hukumannya.
Aku sangat terkejut, ketika Bapak Udo mengatakan bahwa acara ini akan di mulai setiap hari, jam sembilam pagi sampai adzan dhuhur, setelah ishoma (istirahat sholat makan), kelas kembali masuk sampai adzan ashar, setelah sholat ashar kegiatan pun di lanjutkan sampa adzan maghrib. Maghrib Istirahat. Setelah isyak, acara pelatihan akan di mulai lagi sampai jam 11 malam. Bagi sesiapa saja yang terlambat sepuluh menit, maka akan di beri hukuman, hukumannya berupa karya seni atau bernyanyi sambil goyong lompat kelinci. Di akhir musyawarah kami, ketika kami hendak beranjak pergi, Ustadz Udo memanggil kami dengan suaranya merdu nan syahdu.

“ Oh iya, Saya lupa. Ini ada oleh-oleh buat kalian di rumah” bilangnya.
Kami pun senang sekali, riang mendengarnya. Dalam pandangan kami oleh-oleh adalah hal yang berharga dan bermamfaat.
“ Saya tadi lupa, tidak memberi kalian PR, tolong kalian buat tulisan, boleh tulisan apa saja tentang acara malam ini!” Suruhnya sambil senyum menyeringai dari raut wajahnya.
Semua para peserta bingung, ini adalah pemberian materi pertama, dan masih berkutat di motivasi belum sampai pada pembahasan pokoknya akan tetapi sudah di beri PR.
“Udah, kalian tulis saja sebisanya, semampu kalian, pokoknya ngerjain!” imbuhnya sambil tersenyum lebar penuh sahabat. Beliau benar-benar bagaikan seorang dokter yang tahu penyakit kami..

Acara selesai jam 12 malam. Aku pun langsung menuju ke singgasaku, istana yang kini sepi, walaupun besar dan tinggi, namun hanya di huni dua orang saja. Letih kakiku menanjak naik ke lantai 6, suasana desa masih sangat kentara di Syber Bey ini, karena belum pernah ada imarah yang di dipasang lift.

********
Malam telah larut, malam semakin di telan kegelapan, suara rintihan himar tak lagi ku dengar, sepi semakin tak bisa kuratapi. Sementara malam terus membisu, dan embun-embun mulai mengepul, suara jangkrik tak lagi menjerit serta suara air menetes di hammam laksana suara gemercik tetesan air didalam gua, yang semakin menambah sunyinya malam, namun aku tetap tak bisa menikmati malam, diriku tetap tidak pernah bisa untuk tidur, bermesraan dengan malam, tidur bersamanya, padahal aku ingin bermimpi keindahan di malam hari. Aku dirundung bingung. Hatiku tak lagi menggaung.
Aku gelisah. Apa aku meneruskan ikut pelatihan itu atau berhenti saja? Sementara aku tidak pernah bisa tidur malam. Apakah aku bisa bangun jam sembilan pagi? Apkah aku siap menerima hkaman jika aku terlambat?? Pertanyaan-pertanyaan ini datang menghantuiku.Acara pelatihan di mulai jam sembilan pagi, itu adalah jam tidurku. Waktu aku terbuai dalam mimpi-mimpi palsu yang tak menentu. Siapa yang terlambat akan di hukum. Sedangkan Uang saku mulai menipis, belum lagi mengerjakan PR. Aku bingung

“ Ah…Bingung aku, masak aku senior di hukum di depan para juniorku” Batinku dengan nada sombong.

Aku juga masih terbayang bahwa sebenarnya saya sudah sering mengikuti pelatihan seperti ini, namun tidak pernah ada hasilnya sama sekali, apalagi sekarang ini bayarnya mahal, rugi jika tidak dapat hasilnya, sedangkan aku belum bayar uang pendaftaran, jadi jika aku tidak ikut pun besok, aku tidak mungkin akan rugi.

Banyak sekali aral melintang didepanku, selain aku sudah bokek, aku juga harus ke Cairo hari minggunya, mengambil paspor di KBRI, acara Tasyakkuran di Fosgama, nyate bareng, dan bedah buku pemikiran milik Dr. Sa’id Nursi di Griya Jawa Tengah. Begitu juga, besok pagi ada jadual main sepak bola di lapangan Syber Bey.

“ Ah.. Males ah aku ikutan lagi acara ini, aku masih punya banyak kesibukan” Aku ngigau sendirian di kamarku.

Setelah kian lama berusaha tidur namun rasa kantuk belum juga datang. Aku duduk dan berpikir lagi, sebaiknya aku mengambil langkah yang mana yang lebih baik. Jika aku melihat para peserta, mereka adalah orang-orang yang serba sibuk semuanya. Khozin misalnya, karena keinginanya yang bulat, membara, dan semangat nya yang setinggi langit, dia rela izin cuti di kantornya selama empat hari, padahal yang aku tahu Khozin selama ini dia telah menguasai tentang tulis menulis dalam pandanganku, namun dia tetap meluangkan waktunya yang sempit untuk ikut pelatihan ini. Shohibul Adzkar, Furqon, Ibrahim, Asmad, Asep Hamzah, semuanya adalah para kru BulletinGEMA, yang deadline-nya tanggal 15, dan acara ini akan selesai tanggal 13, tentunya mereka sangat sibuk semuanya, namun mereka semua tidak keder dengan kemepetan waktu yang mereka miliki dan kesibukannya dengan pekerjaan lain(Chating). Syahrul pun sebagai Pimred GEMA, terlihat sangat semangat dan antusias dalam pelatihan ini. Itu tidak terlepas karena mereka sebenarnya sudah tahu siapa Ustadz Udo Yamin Majdi Mereka tidak ingin membiarkan waktu berlalu begitu saja untuk berguru dengan beliau. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ustadz Udo adalah salah satu penulis Masisir (mahasiswa Indonesia Mesir), penulis Qur-anic Question. Sementara Nasrun yang sedang bokek berat, rela sampai hutang duit sama Imam, dia tidak ingin melepaskan kesempatan yang sangat baik dan berharga ini. Ating telah lama tinggal di Cairo untuk mengurus beasiswanya, dan kesibukannya mengurus proposal tidak menjadi penghalang untuk tetap ikut pelatihan ini, walau masih gamang. Imam Syafi’i, yang kebiasaannya nongkrong di Alexandria, rela berdiam diri di Tanta selama empat hari. Su’udi, selain sebagai Pinum GEMA, dia rela, sudi, dan mau meninggalkan kebiasaan chatingnya, hanya untuk ikut sekolah menulis, padahal dia kadang ogah-ogahan hadir diacara yang diadakan oelh DPD, namun diacara ini, dia semngat sekali, khidmat mengikutinya. Supriyo, dia jauh-jauh datang ke kota Tanta karena keinginannya untuk mengenal dunia tulis menulis. Bahkan Ustadz Udo pun rela dan sabar datang ke Tanta, walaupun kedua anaknya sedang sakit-sakitan. Perjuangan beliau untuk meningkatkan kreatif membaca dan menulis tidak di ragukan lagi. Mereka, semuanya diatas, mempunyai kesibukan masih-masing yang jauh lebih penting dari kesibukanku, namun mereka tetap semangat seakan tiada beban ikut pelatihan ini dan Ustadz Uda tetap tegar dan semangat mengajar kami. Sedangakan aku, aku hanya ingin mengambil paspor di KBRI yang bisa diambil kapan saja, persediaan uang pun sebenarnya masih ada, tidak akan sampai pinjam ke tetangga, Acara “ nyate bareng” yang akan diadakan kekeluargaanku bisa mengadakan sendiri bersama kawan-kawan. Bedah pemikiran tentang bukunya Dr. Nursi bila ada uang tinggal membeli bukunya, sedangkan pemikiran jika tidak bisa tulis menulis tetap saja akan ada yang kurang, apalagi sekarang bukan lagi perang dengan senjata melain perang media. Tunanganku yang biasanya minta di telp atau ngajak chating insya Allah dia faham dan mengerti dengan keadaanku, apalgi ini adalah untuk kebutuhan kami di masa depan. Masak aku kalah dengan mereka diatas? Akankah semangatku ciut sampai disini, gara-gara halangan sepele ini??
Suara adzan subuh berkomandang syahdu terdengar jelas ditelingaku, menandakan bahwa subuh telah tiba. Selepas sholat, aku masih dalam kegamangan, apakah aku bisa bangun jam sembilan pagi selama empat hari? Aku pun berjudi dengan dengan waktu, jika aku bisa bangun jam sembilan berarti aku ikut pelatihan ini. Aku pun langsung berpetualang dalam mimpi, rasa ngantuk mengajakku bermesraan, mataku didekap erat olehnya, sementara pelukannya di bagin tubuhku semakin menambah pulas tidurku. Aku lelap.
##########

Dan…Betapa kagetnya aku, ketika jam disampingku menunjukkan jam 10.30. Suara teriakan alarm yang aku pasang, tidak cukup tangguh membangunkanku. Aku dikalahkan oleh rasa ngantuk. Aku terlambat. Jika tetap memaksa pergi, aku akan dapat hukuman. Tapi semangatku sudah tumbuh waktu itu. Aku teringat pepatah,’lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali’. Aku pun berangkat dengan mata sipit, muka yang baru diguyur dengan sedikit air kran.
Sesampai di depan sekretariat, aku masih bingung, aku malu untuk masuk.

“ Ah…Ngapain juga malu, terlambat sekali aja kok” pikirku.

Aku memasuki kelas, Ustadz Udo tidak menegurku, teman-teman yang lain tidak menyapaku, mereka sedang khusuk menerima materi dari Ustadz Udo Yamin Majdi.
Setelah teman-teman pada mulai terjangkati oleh ngantuk, Khozin sebagai ketua menyindir aku, menyuruh sesiapa yang terlambat harap maju kedepan, untuk menerima hukumannya. Aku sadar, bahwa yang di maksud adalah aku. Aku maju. Aku merogoh kocekku dan mengambil secarik kertas.

Aku adalah pujangga yang kesiangan
Aku kalah dalam kebimbangan
Aku terpesona dengan indahnya hayalan
Tapi aku tak bisa mendapatkan kemenangan

Darahku memanas untuk berimajnasi
Ilusi bangunkanku untuk berkreasi
Aku menyendiri dalam relung sepi
Untuk menghayati makna alam yang tak bertepi

Aku hanya seorang penyair kecil yang miskin kata
Aku masih ingin menulis dan merangkai kata
Alam adalah sumber imajnasiku
Keadaan menjadi inspirasiku

Karena cinta aku gundah gulana
Aku terpenjara oleh renjana
Kekwatiranku menambah kebimbangan
Namun aku tetap harus menuju kemenangan

Mungkin aku tlah jatuh dalam pelukan cintanya
Pada seorang yang sedang asyik diseberang sana
Perasaan membuatku merana
Menggetarkan hatiku yang jtuh renjana kepadanya

Ah….Aku tersadar sejenak.

Cinta hakiki menuju kebahagiaan
Do’a adalah untaian keindahan
Sabar adalah kunci kesuksesan
Bertwakkal menju keabadian

Puisi-ku sedikit cukup menghilangkan rasa kantuk menyelimuti dan menjalari diseluruh tubuh teman-temanku, tepuk tangan pun tetap diberikan kepadaku walau agak terpaksa karena puisiku tidak berasa.
Di hari kedua, aku terlambat lagi, ini adalah kedua kalinya aku di hukum oleh teman-teman.

Keputusanmu membuat gundahku pergi
Kesetiaanmu membuat hati kita terpatri
Segala sesuatu pasti ada pahit manisnya
Karena syurga dan neraka pasti adanya

Karena puisiku hanya sedikit, teman-teman memintaku untuk bernyanyi dan bergoyang lompat kelinci. Tahu enggak seperti apa goyang lompat kelinci??. Aku meminta Ibrahim (Baim) Untuk memainkan gitar, sementara yang lain ikut berdendang dengan tepukan tangan. Lagu dangdut yang kubawakan” Goyang dombreng” sangat memuaskan para peserta. Mereka kagum dengan suara serakku, cekokanku menambah keindahan lagu itu, apalagi di tambah sedikit goyang ngeborku.
Di hari kedua, setelah selesai menyampaikan materi tentang dunia fiksi, Bapak Udo mengajak kami untuk mencari inspirasi di tengah sesawahan, namun ketika sampai di sawah, semuanya mengering. Harapan kami ingin berimajnasi dengan keindahan alam musnah, namun itu tetap tidak menurunkan semangat kami. Dan Ustadz Udo tetap menggiring kami. Beliau berpesan” Tulislah apa yang kalian bisa!”
Selepas sholat isyak, kami pun berkumpul kembali, kelas mulai aktif, dan Bang Udo (karena ada sebagian yang memanggil beliau dengan sebutana, Abang, Bapak dan ustadz) datang dengan anak kesayangannya, Fatih. Para pserta mempresentasikan hasil karynya masing-masing, mulai dari judulnya, Durian Jatuh, Terperangkap cinta dengan cewek Mesir, Kering kerontang, dan masih banyak yang lainnya. Namun ada tiga kategori cerpen yang paling lucu, walau sebenarnya isinya jauh dari kesempurnaan terutama cerpenku” Air sumber kehidupan”, disini, yang membuat kawan-kawan ketawa larut dalam gelak, karena ada salah satu temenku yang bertanya, tentang suara kambing, yang memakai diksi ‘ kambing Pak Ahmad berteriak-teriak kehausan’ kontan saja aku menyebut nama musuh bebuyutanku” Suuuuuuuuuuu’ud”. Semua tawa tertuju kepada sahabat karibku itu, dia pun melepas tawanya walau dengan terpaksa, teman-teman yakin nanti dia akan membalas isi cerpenku. Cerpen Nasrun membuat perut kawan-kawan sakit menahan tawa, judul cerpennya adalah” Kesurupan” di ambil dari kisah nyata disekolahnya, yang dipresentasikan oleh dia sendiri. Namun, disela-sela pendengar khusuk, terbuai dengan prolognya, membayangkan bahwa cerpennya akan bercerita tentang dunia gaib akan tetapi ketika ceritanya sampai di bagian” Ada ular di hammam, warnanya hitam” Semua peserta ketawa terbahak. Ada sebagian peserta yang bertanya, “Ular siapakah itu” Gelak tawapun bertambah riuh. Karena, walau ddalam persepsi penulis tidak lucu akan tetapi peserta lain menganggapnya lucu sekali, karena di pikiran kawan-kawan yang bukan ‘ular hitam’ yang di maksud, akan tetapi ‘makna lain’. Cerpen Imam Syafi’i semakin menambah sakit perut kami, karena dengan tulisan cerpennya yang sedikit namun dia mmpresentasikannya begitu lama, dan berputar-putar, mungkin itu yang disebut alur maju mundur. Cerpennya berjudul” Kota Impian” Dia mempresentasikan, bahwa kota yang indah nan damai itu telah berubah menjadi jorok, menakutkan, dan kotor, disebabkan oleh orang yang datang dari kota sebelahnya yang ingin menghancurkan nama dan citra baik kota impian tadi, setelah hancur para penjahat tadi pulang kekampung halamannya. Di kota impian itu, akan lahir seorang anak kecil yang tumbuh menjelma seoarng kesatria sejati dan pintar dan dialah yang akan mengembalikan citra buruk kota impian itu. Namun di Pertengahan, aku bertanya kepadanya” Penjahatnya siapa yang membunuhnya?” Dia terdiam sebentar dan dia tidak menjawab siapa yang akan membunuh orang yang telah merusak nama baik kota impian itu.Gelak tawa dari teman-teman pun semakin menambah tidak pede presentatornya.

“ Walah, paling anak tadi, tembuh besar dan berguru ke pegunungan dan membasmi para penjahat itu, kayak di cerita-cerita Kopinghoo itu kan??” Tebakku.
“ Bukan…!!” Jawab Imam tegas.
Para peserta yang tadinya khusuk, dan ngantuk mulai menjalari tubuhnya, tertawa terbahak-bahak mendengarkan pemaparan cerpennya Imam ini.

Dari kami, tidak ada anggota yang sampai tertidur di kelas, walau acaranya di mulai jam sembilan pagi sampai jam sebelas malam, bahkan kadang samai jam 12 malam, aku sendiri pun meresa heran, kenapa aku tidak pernah meresa ngantuk, begitu juga dengan teman yang lainnya, tetap khusuk menerima semua materi yang di sampaikan oleh Ustadz Udo Yamin Majdi. Tentu, semua ini tidak terlepas dari kepiawaian beliau menghadapi murid-muridnya, beliau sekan tahu semua karakter 14 anak ini, sehingga beliau tidak mudah membuat kami bosan dan ngantuk menerima materi darinya. Peserta yang sebelumnya berjumlag 15, gugur satu karena sakit animia. Dan 14 ini sitiqomah mengikuti cara pelatuhan ini, seakan tidak mau meninggalkan materi yang disampaikan oleh beliau, begitu juga dengan aku, aku tidak trlabat lagi di hari ketiga. Aku merasa sangat rudi jika meninggalkan penyampaian materi beliau. Permainan, nyanyian, puisi lepas, dangdutan, selalu mewarnai acara kami, apalagi ketika ada salah satu diantara kami yang mulai mengantuk, tidak terlepas karena Ustadz Udo tahu bahwa rata-rata kami menyukai musik.. Yang tidak bisa bernyanyi pun seakan ingin ikut menyombang lagu, untuk menghibur teman yang lain.

Semuanya kini akan berlalu. Malam ini adalah malam perpisahan, malam terakhir, dan muhasabah. Pemberian materi terkahir berakhir jam dua belas malam. Kami istirahat dan makan. Stelah menikmati istirahat dan hidangan malam, panitia pun mulai bersiap-siap untuk acara selanjutnya, Acara, lagu perpisahan, dan menyanyikan mars Word Smar Center untuk yang terakhir kalinya. Mars ini berhasil di ciptakan oleh Baim (Ibrahim), dan akan di lanjutkan dengan puisi estapet.

kami adalah para penulis
berjiwa patriot dan agamis
bersatu dalam satu idealis
word smart center penuh humanis

buku adalah teman kita
dalam suka dan duka
dengan pena mari kita buat
perubahan dan kemenangan

kami punya visi misi
kami yakin bisa

kita menuju indonesia
cerdas mandiri kreatif dan mulia
tugas anak-anak bangsa
untuk agama dan negara tercinta

Baim, 13 oktober 2009

Nanyian mars telah membakar jiwa kami, menumbuhkan semangat kami, dan menambah giat kami untuk menulis. Lagu perpisahan 'malam perpisahan' telah aku nyanyikan dengan penuh khidmat. Kini tiba puisi estapet, karangan bebas tanpa di catat. Dengan diringi petikan gitar oleh Baim, mengambil nada akuistik lagu Peterpen” Semua tentang kita” menambah keheningan malam. Semua muka tertunduk, lunglai, yang terdengar hanya puisi dan alunan gitar yang menghiasi kelamnya malam. . Lampu pun di matikan oleh panitia, diganti dengan sepotong lilin, suasana semakin menambah sedihnya malam, malam ini akan menjadi sejarah bagi kami.

Mana tawamu
Mana sendamu
Kenapa kalian diam membisu
Apakaha kalian sudah lesu


Aku sadar bahwa aku salah
Diriku memang kalah
Maafkan aku kawan
Jangan tinggalkan aku kawan

Susana semakin mencekam, pilu, sedih, hanya ada rasa sesal di hati kami. Empat hari adalah waktu yang sangat singkat bagi kami, apalagi aku kurang sigap dan tanggap mengikutinya. Walau beliau telah membangunkan jiwa dan asa kami, namun kami masih tetap butuh bimbingannya. Kami merasa belum siap di tinggalkan oleh pembimbing kami. Kami masih butuh petuah-petuah beliau. Kami masih ingin selalu di beri mutivasi olehnya. Lantunan puisi terus terucap tanpa sadar dari kawan-kawan, terdengar sesenggukan semakin menjadikan malam histeris seakan ingin membawa kami semua menangis. Estapet Puisi Pun sampai pada Nasrun, dia membentangkan secarik kertas di depannya, sementara kawan-kawan tetap tertunduk membisu.

Malam ini terakhir bagi kita..
Untuk mencurahkan……

Ketika sampai di kalimat itu, semua mata mengarah pada Nasrun, dia tetap diam, raut wajahnya tetap sedih seperti kami, Namun kami tidak tahan menahan gelak dalam hati.. Ketawa kami pun memecahkan suasana yang hening tadi, kami terpingkal-pingkal dengan puisi yang di bawakan oleh Nasrun, yang tak lain adalah lagu’ Rana dan Rani’. Perut kami sampai sakit, bahkan banyak dari peserta yang tak kuat menahan ketawa menyebabkan mereka ingin kencing semuanya. Kebetulan juga waktu subuh sudah hampir tiba.
Hamzah Maju kedepan untuk menghibur kami dengan lagu andalannya” Muhasabah cinta” Tak ayal, lagu yang di bawakan oleh mantan juara nasyid se Bogor ini, membuat kawan-kawan khusuk mendengarnya, meresapinya, dan suaranya yang lembut, gemulai membuyarkan rasa ngantuk seketika.
Acara penutupan sekolah menulis telah dimulai. Ustadz Udo sebagai pembimbing kami memberikan wejangan. Beliau mengajak kita untuk selalu berjihad.

J : Jujur
I : Istiqomah
H : Hikmah
A : aktif
D : Dinamis

Walau acara di mulai dari jam sembilan pagi dan ditutup setelah sholat subuh, namun dari kami tidak ada yang merasa ngantuk, semua raut wajah kami ceria bercampur sedih, karena kebersamaan akan pergi, senyum tawa bersama tidak akan ada lagi. Aneh, sungguh aneh. Memang sangat manjur methode yang di tawarkan oleh Ustadz Udo ini, perubahan sangat segnifikan dirasakan oleh semua peserta, bahkan hampir semua peserta tahu dan mengerti dunia tulis menulis. Apalagi sekarang dunia media dikuasai oleh musuh-musuh islam. Menulis adalah bagian dari berjihad, jadi kita merasa sangat beruntung kota Tanta bisa di labui oleh orang seperti beliau. Beliau juga menjelaskan bahwa dengan menulis kita bisa mendapatkan tiga hal, mendatangkan rizki, mendapatkan ilmu, dan memperoleh jodoh. Padahal pertama aku berjumpa, aku mengira dia adalah orang yang akan mendoktrin kami dengan idealismenya , faham, dan ideolgi baru. Itu adalah prasangka burukku akan beliau. Kini, Aku merasa tahu tentang dunia tulis menulis dari beliau, semangat dan visi misi beliau sangat menggugahku. Sungguh luar biasa methode beliau. Aku menyebutnya, “ Methode Pembangun Jiwa Yang lara”. My Resfect for You, Ustadz. Terimakasih telah memabangunkan dan mengasah potensi kami.
Selanjutnya... »»

Betapa Pentingnya Peran Seorang Ibu

13:11 Posted by Pengembara Cinta

Betapa Pentingnya Peran Seorang Ibu

Kata ”Ibu” adalah kata terindah dan sebutan paling syahdu yang keluar dari setiap mulut anak manusia. Merupakan kata penyejuk jiwa yang dahaga. Hati setiap anak Adam akan gersang sebab kerinduan jika jauh apalagi jika ditinggalkan oleh seorang ibu. Dia akan merasakan getaran rindu yang mendayu dan butuh sentuhan lembab seorang ibu untuk menyegarkannya kembali.

Ibu adalah sumber penabur benih dan serpihan cinta bagi anak manusia. Darinya manusia mengenal dan belajar cinta, arti kehidupan, dan arti sebuah perjuangan. Wajar jika seorang anak yang dari kecil dididik oleh seorang ibu peka terhadap cinta, kedamaian, dan kesahajaan. Ibu adalah sumber inspirasi, sumber imajinasi. Di dalam hatinya terdapat keindahan dan kedamaian. Di bawah kakinya terdapat surga, darinya terkadang murka Tuhan lebih cepat datang. Ibu bagaikan ilmu ‘Shorrof’ dan Bapak seperti ilmu ‘Nahwu’ (dalam gramatikal bahasa arab, ilmu shorrof lebih sulit dari ilmu nahwu). Ibu adalah guru yang tak pernah digaji, guru tanpa tanda jasa, menjadi buruh dan pembantu yang tak pernah dibayar dan sering lupa dihargai, dan menjadi perawat yang paling setia. Terkadang beliau menjadi sutradara, aktris, dan pemeran pembantu bagi anak-anaknya. Sesekali ia menjelma menjadi Puteri Salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan Sang Pangeran. Keesokan harinya, ia menjadi pendekar yang siap berlari, mengejar dan menghalau musuh agar tidak mengganggu buah hatinya. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan ‘aungan’ suara harimau. Atau berpura-pura menjadi si Nenek Sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata walau sedetik. Namun, si kecil belum juga memejamkan matanya dan memintanya menceritakan dongeng yang ke sekian kalinya. Dalam kantuk, lelah, lapar, haus dahaganya, beliau pun terus mendongeng demi menyanggupi permintaan belahan jiwanya, hingga lelap menjadi ‘ending’ sebuah ceritanya.
Sesiapa saja yang jauh, kehilangan kasih sayang seorang ibu, sentuhan mesranya,
bahkan ridhonya, maka hatinya akan gersang, haus siraman keibuan, dan ada segumpal darah suci yang terkotori dan dan butuh air kesucian dari seorang ibu untuk membersihkannya. Raut muka dalam diri seorang ibu, terpancar sinar keikhlasan. Dari kelopak matanya memijar mentari keindahan, dan senyum sumringah yang selalu keluar dari bibirnya yang manis nan indah walau tak dihiasi oleh lipstik Mesir.

----***----


Kasih Ibu. Kasih terajaib sepanjang masa. Namun aku tidak mendapatkan lagi rasa itu. Semuanya telah tiada, sirna dari hidupku. Entah kapan aku akan meraupnya dan merengkuhnya kembali??
Bayangan itu masih teringat jelas dalam memory otakku. Tragedi pertempuran keluarga, peperangan yang menyebabkan aku ditinggalkan oleh ibuku. Sebuah kenangan yang membuatku jauh dari kasih sayang seorang ibu. Diriku laksana berada di tengah gurun pasir sedangkan persediaan air telah habis. Pahit getirnya kehidupan pasti dirasakan seorang anak yang ditinggalkan ibunya di saat dia membutuhkan luahan kasih ibu. Dan itulah yang kurasakan. Perseteruan itulah yang menyebabkan mereka, Ayah Ibuku, mengakhiri petualangan cinta mereka yang sudah lama bersemi. Perjalanan cinta mereka yang sudah menghasilkan lima kurcaci. Kala itu, mahligai cinta mereka musnah. Padmasana yang mereka bangun dari nol hancur berantakan, sementara sendi-sendi dan serpihan ego mereka terus bergejolak untuk tidak lagi hidup serumah. Aku hanya bisa menangis waktu itu. Mendengarkan suara piring berterbangan didapur. Serpihan piring yang pecah pun jatuh di depan kami. Aku tersentak kaget. Adik-adikku pun semakin menjerit histeris lalu kontan memelukku erat-erat. Ibuku hanya bisa menangis, sementara tamparan bagai suara ribuan tangan terus menderu, suara itu terdengar keras di telingaku. Sungguh kejam dan seram. Anak sekecil kami telah mendapatkan pelajaran yang tidak mendidik. Melerai mereka pun tidak akan mungkin bisa. Adanya kami pun tidak menyurutkan perkelahian itu.

“ Sayang, kalian jangan menangis! Coba lihat Ibu, Ibu enggak apa-apa kok. Ibu sayang kalian, jangan menangis lagi ya!!” Ibuku datang dengan wajah yang memerah dan sesenggukan menyuruh kami agar tidak lagi menangis. Beliau terus berusaha menahan sesaknya, sementara tangis ibu terus menjadi seiring tangis kami yang menjadi-jadi.

“ Zulfikar, bawa adek-adekmu masuk ke kamar!”

Kakak dan aku pun langsung menggiring ketiga adik kami dan menuju kamar depan, kami semuanya menangis sampai serasa nafas kami sesak, sesenggukan.
“ Plakkkk..” Suara tamparan kembali terdengar dari depan kamar. Ayah masih saja memukul ibu, entah dimana perasaannya hingga tak menghiraukan tangis kami.
“ Apa salahku, kenapa aku harus menerima kenyataan ini??” Ibuku terus mencoba untuk menanyakan salahnya yang kesekian kalinya, namun tak pernah mendapat jawaban.
Keesokan harinya, di saat aku, kakakku, dan ayah pulang dari kebun, betapa kami terkejut, ternyata ibu belum menyediakan makanan di atas meja makan. Padahal biasanya, ibu sudah menyediakan sarapan pagi buat kami. Ibu tahu bahwa kami selalu kelaparan sehabis memotong (mengiris) karet di kebun. Ibu tidak ikut bekerja ke kebun karet karena ibu masih masih merawat ketiga adikku yang masih kecil-kecil dan memasak sarapan. Padahal kami saat itu sudah kelaparan semuanya, namun sarapan belum juga tersaji. Wajah Ayah terlihat sangat memerah. Ayah tahu bahwa aku dan kakakku sudah kelaparan sejak di kebun karet tadi.

“ Rizal! Bangunin ibumu, paling dia masih ngorok ngelonin adik-adikmu. Cepetan!” Ayahku menyuruhku dengan nada agak keras.
Aku pun langsung menuju kamar ibu. Aku ketuk pintu kamarnya, sampai tiga kali belum juga dibuka. Karena tak juga ada jawaban, aku pun langsung masuk tanpa menunggu izinnya, padahal ibu mengajariku untuk minta izin dulu kalau mau masuk kamar siapapun. Kemudian, aku tersentak kaget. Kamar ibu sudah kosong. Adik-adikku pun tidak ada di kamar ibu. Kamarnya bersih dan rapi. Sementara pakaian adik yang terkadang berantakan di ranjang ibu, kini tidak satu pun aku melihatnya. Aku menangis. Badanku bergetar. Bulu romaku seakan tumbuh seketika. Aku keluar menuju ayah sembari sesenggukan. Tangisku menutup mulutku. Susah bertutur kata

“ Rizal! Mana ibumu, kok malah nangis gitu sih?” Ayah menarik badanku keras sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku. Beliau sampai mengulang tiga kali pertanyaannya. Aku tetap menangis, tak kuasa menahan sedih, takut, dan khawatir ada apa-apa dengan ibu. Aku tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan Ayah, tapi sulit karena mulutku tetap terkunci oleh isak dan tangis.

“ Maisaroh!! Ada di mana kau??” lalu Ayah berteriak-teriak mencari ibuku.

Aku menghampiri kakak, “ ibu….ibu enggak ada, Kak,” tuturku pada kakak sambil sesenggukan.
Ayah bergegas menuju kamar atas, menggeledah semua tempat, ayah memeriksa semua kamar, juga mencarinya di dapur, namun tetap tidak menemukan ibu. Ayah membuka lemari besar, lemari tempat menimpan baju, namun semuanya telah kosong. Ayahku semakin gamang, heran dan geram. Lemari yang besar itu didorongnya hingga jatuh.
“ Jendarrrrrrrrrrrrr..! Suara benturan benda keras melengking keras dari dalam kamar. Aku dan kakakku semakin keras menangis mendengar ayahku merobohkan semua lemari yang ada di kamar ibu. Ayah tidak mempedulikan kami. Tangis kami tidak membuatnya mengurangi amukannya. Kami takut melihat wajah ayah. Wajahnya seram, memerah, amarahnya memuncak.. Mungkin karena sudah capek misuh-misuh terus dan lelah telah menghancurkan semua perkakas rumah, ayah kemudian duduk di meja makan. Beliau kelihatan sedih bercampur geram, wajahnya penuh peluh, keringat berjatuhan dari badannya, sementara dari matanya mulai mengeluarkan air kesedihan. Beliau rebahkan bahunya ke dinding rumah. Ia menerawang masa kelam. Tiba-tiba, beliau menemukan sepucuk surat yang dilipat dan disimpan di bawah kendi. Mata beliau melihatnya sendu seakan sudah tahu isi surat itu, sementara air matanya mulai berjatuhan tanpa disadarinya.


Assalamu’alaikum.Wr.Wb

Suamiku, aku lelah. Aku sudah bosan dengan kekerasanmu. Aku tak kuasa menahan amarah dan siksamu. Entah apa salahku? Kenapa kau begitu tega terhadapku?Apakah kau tidak kasihan sama anak-anak kita?? Sedangkan ketika aku tanya apa salahku, kau tak pernah menjawabnya. Mungkin perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk kita, Bang. Kasihan sama anak-anak kita jika kita tidak berpisah sementara kita bertengkar terus setiap hari. Belum lagi gunjingan dari tetangga. Maafkan aku, Bang. Aku akan pergi. Ketiga anak kita kubawa pergi, Abang jaga kedua anak kita itu.
Jangan lupa, Bang, aku minta talaq. Aku minta talaq. Aku minta talaq. Aku tidak akan kembali lagi, Bang. Jangan cari aku dan anak-anak, Bang! Uang tabungan aku bawa semuanya untuk biaya, Bang.

Wassalamu’alaikum.wr.wb
Maisaroh

Aku melihat badan Ayah lunglai, sedih, dan tangannya gemetar membaca surat itu. Sementara butiran air matanya terus berjatuhan. Tangis pun terdengar dari mulut ayah, ayah yang akhir-akhir ini selalu garang, kini menangis sesenggukan, sementara kami terus menangis sambil menjerit mendengar ayah menangis. Surat itu jatuh dengan sendirinya dari tangan ayah. Ayah menatap wajah kami dalam. Wajah ayah yang tadinya garang kini berubah pucat. Ia tak kuasa menahan tangisnya, kemudian beliau melangkah menuju kamarnya. beliau tak kuasa menahan rasa sedih. Mungkin ayah merasa bersalah. Sementara kakakku terus memelukku erat-erat.
Aku juga bingung dengan sifat ayah. Ayah yang dulunya pendiam, sabar, harmonis, romantis, dan bertangggung jawab sama keluarga, kini telah berubah drastis, berbalik arah dari sebelumnya, sejak tiga bulan terakhir ini ayah berubah 100% dan puncaknya adalah kejadian kemarin. Aku tidak bisa berfikir kenapa ayah setega dan sekejam itu sama ibu?? Kenapa bisa berubah seperti ini? Masalahnya pun tidak jelas, entah berawal dari mana? Padahal ibu tidak pernah membantah perintah ayah, ibu selalu menuruti kemauannya.
Setelah ibu dan adik-adik pergi, malam-malam kami sepi, sunyi, dan senyap. Ruangan yang dulunya harmonis, romantis bersahaja kini seakan menjadi rumah yang penuh dengan air mata. Senda gurau, gelak tawa, dan dongeng-dongeng lucu yang selalu diperagakan ibu sebelum tidur tiada lagi kudengar, tidak ada lagi pendongeng gratis yang menemani lelap kami. Keramaian yang selalu menghiasi rumah tangga kami tidak terdengar lagi. Kepergian ibu telah mengubah semuanya. Rumah kami bagaikan sebuah kuburan. Padahal aku masih ingin dimandikan oleh ibu seperti anak yang lain. Aku ingin tidur di pelukan ibu, dengan suaranya yang merdu, meninabobokan aku. Aku ingin terlelap dalam pelukannya, namun keinginanku itu hanya angan-angan belaka. Ibuku telah pergi meninggalkanku, saat aku masih berumur tujuh tahun. Kakakku masih trauma, pun aku demikian, kehilangan ibu di saat-saat kami butuh kasih sayang dan curahannya. Sedangkan ayahku selalu termenung sendirian, walau kejadian itu telah berlalu satu minggu. Ayahku seperti orang frustasi. Ayahku tampak depresi.
Setelah kejadian itu keluarga kami benar-benar berantakan, hancur laksana kapal kekurangan anak buahnya, karam di tengah lautan. Ayahku berhenti bekerja di PT. Bhina Karya. Beliau lebih memilih bekerja menjadi tukang karet biasa. Padahal penghasilan karet kami sangat tidak mencukupi kebutuhan kami. Apalagi kakakku sudah kelas enam SD, butuh banyak biaya untuk kelulusannya. Akhirnya jatah makan kami pun yang biasanya ‘sehari dua kali’, diubah menjadi sekali saja demi menabung untuk biaya sekolah kakakku. Sementara aku harus puas berhenti di kelas dua. Ayahku tidak bisa membiayai kami berdua. Sungguh aku merasa sedih. Benar-benar sedih. Aku hanya bisa melepas sekolahku dengan tangis dan air mata. Aku hanya terbayang wajah ibu yang penuh senyum. Andai beliau ada disiku, mungkin semua ini tidak akan terjadi Aku rindu ibu. Sangat merindukannya.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Iwan Fals..

Keluargaku benar-benar hancur berantakan. Kakakku menghilang setelah lulus SD. Awalnya dia berpamitan ingin mengadu nasib, mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari kami yang semakin dilanda kemiskinan. Kakakku masih ingin menyekolahkanku. Namun, rimba kakakku tak lagi kudengar, entah dimana adanya. Aku dan ayah pun harus berperan sebagai ibu rumah tangga, kami selalu masak bergantian, cuci baju sendiri-sendiri. Banyak sekali pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan oleh kami. Rumah kami pun tidak terurus. Kurang bersih. Tidak rapi. Sungguh, aku sangat membutuhkan seorang ibu. Ibu adalah segalanya dalam hidupku. Entah apa jadinya dunia tanpa kehadiran seorang ibu.

“ Ibu…!!” Hatiku berteriak rindu akan ibu.
Ibu, kau ada dimana?
Aku rindu akan dirimu, ibu.
Ohh… Ibu.
Anakmu kini rindu haus dahaga.
Rindu dan kangen ingin bersua
Ingin meluapkan rasa rindu yang selalu menggebu-gebu
Yang tak kunjung padam walau aku selalu menangis tersedu

Jiwaku berkata nurani berbisik ‘haus dahaga’ ingin bertemu ibu
Seluruh badanku bergetar tatkala mendengar kata ‘ibu’
Kepadamu aku selalu tembangkan nada kerinduan
Karenamu aku terinspirasi sejenak tuk adi biduan

Aku selalu berdo’a semuga kita cepat bertemu
Memadu kasih bersama seorang ibu
Agar dipanjangkan umur dan senantiasa bahagia
Bisa berkumpul kembali bersama keluarga tercinta

_____*******_____

Di keseharian kami, kami terus membanting tulang untuk tetap bertahan hidup, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami hanya mengiris karet saja. Karena itulah satu-satunya kebun yang bisa menghasilkan uang. Lahan pertanian kami tidak punya. Orang tua kami hanya mendapatkan warisan tanah yang dijadikan tempat rumah kami dan kebun karet. Ingin bagi hasil dengan tetangga, tetangga tidak mau berkongsi kerja dengan kami. Mereka tidak menghiraukan kehidupan kami yang melarat, terjerat dalam kemiskinan. Kadang kami juga kelaparan kalau sudah musim hujan, karena kebun karet kami tidak bisa menghasilkan apa-apa di musim hujan. Kami kadang harus menahan lapar hingga esok hari walau kami. Sebenarnya punya tabungan, namun aku dan ayah tetap berusaha untuk tidak membuka tabungan yang mungkin isinya hanya 90.000 saja. Kami menabung sedikit demi sedikit. Walau di ketiadaan seorang ibu, aku tidak mau menjadi orang yang terbelakang di dunia pendidikan. Aku tetap harus menghadapi hidup dengan ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama. Ayahku juga selalu mendukung dan mengimeng-ngimengiku akan menyekolahkanku lagi dan mendaftarkan aku untuk mengikuti pengajian al-quran yang diadakan setiap habis sholat maghrib di mosholla “ Assyafi’iyah”, namun beliau berpesan agar aku harus selalu berusaha menahan lapar. Aku siap dan akan selalu siap menghadapi lapar, demi mencapai target dan tujuanku dan keinginan ayah.
Dua tahun aku menjalani hidup hanya dengan seorang ayah. Kakak, adik-adikku, dan ibu entah gimana kabarnya. Mungkin umurku memang agak terlambat untuk masuk sekolah di kelas tiga SD. Umurku sudah sepuluh tahun. Namun, rasa malu buatku bukan menjadi penghalang buatku untuk berteman dengan teman-teman yang memang ada di bawahku semua umur mereka, karena aku memang terlambat sekolah. Aku menganggur selama dua tahun. Uang tabungan sudah lumayan cukup untuk mendaftar sekolah lagi, sedangkan biaya bulanan aku harus tetap berusaha dengan segiat mungkin mendapatkannya, dengan tetap banting tulang dan mencari kerja sampingan, atau, jika aku bisa mendapatkan rengking satu, maka aku akan mudah mendapatkan beasiswa.
Aku sudah mempersiapkan segala peralatan sekolah kecuali baju yang masih aku belum bereskan, karena besok lusa, aku dan ayah akan pergi ke SD Kemayoran untuk daftar sekolah. Hatiku sangat senang. Aku akan sekolah lagi. Aku tersentak kaget, arang setrika mencuat, bertaburan diatas sajadah ketika aku sedang menyeterika bajuku (dengan setrika yang memakai arang), tiba-tiba ada orang yang mengetok pintu rumahku dengan keras. Sudah jam delapan malam lagi. Sangat jarang sekali ada orang yang berani melintas di sekitar rumah kami kalau malam sudah tiba. Rumah kami sangat jauh dari keramaian. Rumah kami hanya dikelilingi oleh kebun-kebun karet yang menjulang tinggi. Namun itu bukan milik kami. Kalau malam hari datang, suasana rumah kami sepi, sunyi, dan seram, yang terdengar hanyalah suara kodok yang ketawa terbahak-bahak di kolam, atau suara jangkrik yang selalu menjerit dari semak-semak belukar, yang menjadi santapan burung-burung hantu, bahkan sering sekali suara burung hantu berubah menjelma seperti suara cewek yang sedang menangis dan minta tolong.
“ Rizal! Ini aku. Bapak Muhaimin. Buka pintunya dong!” Suara dari luar meminta di bukain pintu. Suara bapak Muhaimin. Orang terkaya di desa kami. Pekerjaannya hanyalah mengantarkan surat, tapi dia tetap terkaya di kampung kami.

“ Silahkan masuk Pak, Muhaimin!” pintaku.

“ Mana bapakmu?”

“ Eh, Pak Muhaimin, ada apa nih malam-malam berkunjung ke rumah kami??” Bapakku keluar dari kamarnya sambil tersenyum tipis langsung emnanyakan prihal kedatangan Pak Muhaimin.
“ Eh, ini Pak Ahmad, ada surat dari anakmu, Zulfikar”
Aku yang mendengar percakapan mereka dari dapur, kontan ingin cepat-cepat keluar membawa kopi bikinanku.
Setelah bapak Muhaimin pergi, ayah langsung membaca surat itu. Aku hanya melihat surat itu dari kejauhan. Tapi aku tetap senang sekali, apalagi ayah, wajahnya langsung berubah. Beliau sangat gembira. Di surat itu tertulis, bahwa keadaan kakak Zulfikar baik-baik saja. Dia mengirim uang sebanyak dua ratus ribu. Dia meminta ayah menyekolahkanku lagi dan ikut les mengaji al-quran. Uang yang dikirim kakakku untuk biaya pedaftaran sekolah dan les ngaji. Kami sangat bahagia bercampur sedih, senang karena sudah tahu kakakku berada di Sanggau Ledo dan dia baik-baik saja sejak menghilang dua tahun silam, sedih diiringi butiran air berjatuhan karena sangat merindukannya, namun kami tetap menangis terharu dan bahagia karena dia bisa mengirimkan sebagian uangnya, berarti dia masih ingat sama kami.
Aku sudah mulai masuk sekolah. Tentunya waktuku padat. Pelajaranku yang banyak dan banyak kegiatan di sekolah membuat jadwal masakku berantakan, hingga ayah yang selalu masak buatku, walau beliau tetap senang melihatku sekolah lagi, namun aku tetap tidak ingin memberatkan beban ayah. Aku jadi ingat masa kecil bersama ibu, didapur selalu ada makanan. Waktu sekolah dulu, ibu selalu menyediakan sarapan dan sangu buatku dan kakak. Aku tidak pernah membawa makanan (Sangu) lagi seperti dulu. Aku hanya melihat teman-teman melahap makanan masakan orang tua mereka. Aku juga tidak punya jatah uang sarapan. Aku hanya bisa menangis di bawah pohon besar di samping sekolahanku. Aku menjauh dari teman-teman yang sedang enak menikmati hasil masakan orang tua mereka. Dalam isak dan tangisku, aku benar-benar ingat masa-masa bersama ibu. Aku kangen ibu. Aku menangis rindu akan ibu. Ibu…. Diamana kah dirimu??.

Ibu adalah segalanya, dia penghibur di dalam kesedihan
Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan

Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati, dan pengampunan
Manusia yang kehilangan ibunya, berarti kehilanangan jiwa sejati yang memberi
Berkat dan menjaganya tanpa henti

Segala sesuatu didunia ini melukiskan tentang sosok seorang ibu
Matahari adalah ibu dari planet-planet bumi yang memberikan makanannya
Dengan pancaran sinarnya

Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai matahari meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai

Dan bumi ini adalah ibu dari segala pepohonan, bunga menjadi ibu dari buah-buahan dan biji-bijian

Ibu sebagai bentuk pembentuk dasar dari segala kewujudan dan adalah roh kekal, penuh keindahan dan cinta. ( Khalil Gibran)
Selanjutnya... »»

  • 125x125 Ads1
  • featured-content

    featured-content

    Photobucket Photobucket Ahlen We Sahlen Bikhudurikum. Happy Reading! Salam, ukhuwah, by Moentero De' Ahmad.... Awaaasss!!!Permaisuriku lagi ngambek nih!!!!!

    featured-content

    video-entry

    featured-content

    Powered By Blogger